95. Dipecat, Lagi?

1407 Words

Sinar matahari pagi telah menyelinap melalui celah tirai, menerangi kamar hotel yang masih berantakan penuh bunga. Namun, kedua penghuninya tak peduli. Mereka masih terbaring di antara seprai yang berantakan, tenggelam dalam kehangatan satu sama lain, seolah dunia luar tak lagi penting. Mereka baru saja menyantap sarapan yang diantar ke kamar, berendam panjang di bak whirlpool, dan kini hanya berbaring berpelukan sambil bercakap-cara lembut. Yudistira mengangkat tangan mereka yang masih terikat jari, menyaksikan cahaya pagi menyorot melalui celah-celah jemari mereka yang saling mengunci. "Kita mau tinggal di mana nanti, Sayang? Apartemenku, atau rumah?" Kirana memiringkan kepalanya ke bahu Yudistira, menyembunyikan wajahnya yang memerah. "Aku ... lebih suka tinggal di rumah. Bayangkan na

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD