33. Konsekuensi

1307 Words

Raymond duduk di balik meja kayu mahoni yang luas, punggungnya bersandar pada kursi ergonomis, matanya menatap kosong ke dinding seberang. Ponselnya tergeletak di atas meja, layar gelap setelah percakapan panjang yang baru saja berakhir. Kata-kata detektif itu masih terngiang di kepalanya. "Remaja itu bekerja di kedai kopi dekat dermaga. Kakaknya di toko perkakas. Mereka menyewa sebuah rumah kecil di sudut jalan Oak. Mereka juga terlihat baik-baik saja." Raymond menghela napas. Baik-baik saja. Itu yang penting. Mereka aman. Mereka tidak kelaparan. Mereka tidak hidup di jalanan. Sherry berhasil melakukan apa yang ia rencanakan, memulai hidup baru di kota yang tidak dikenal siapa pun. Lalu kalimat terakhir itu datang, menusuk seperti ujung pisau yang tidak terlihat. "Pria pemilik toko p

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD