41. Marah dan Kecewa

1821 Words

Dermaga Greyhound di pagi hari terasa sepi. Hanya beberapa nelayan tua yang duduk di tepi dermaga, memeriksa jaring mereka sambil sesekali menyesap kopi dari termos. Kapal-kapal nelayan masih bersandar, bergoyang pelan di atas air yang tenang. Di kejauhan, burung camar terbang rendah, mencelupkan paruhnya ke air lalu terbang lagi. David berdiri di pagar pembatas, di tempat yang sama di mana ia melihat Raymond berdiri di samping kakaknya kemarin. Tangannya yang memar ia masukkan ke saku celana, menyembunyikannya dari pandangan. Matanya merah, bukan karena menangis, tapi karena amarah yang masih membara dan tidak tahu harus ke mana ia luapkan lagi. Percakapan tadi pagi setelah sarapan masih terngiang di kepalanya. Setiap kata, setiap jeda, setiap isak tangis yang tertahan, semuanya terasa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD