37. Pertemuan di Dermaga

2123 Words

Pagi itu terasa berbeda. Bukan karena cuacanya, langit tetap biru cerah seperti biasa, matahari tetap hangat menyinari jalanan berbatu bata merah, dan angin tetap berbisik lembut di antara pepohonan rindang di depan rumah. Tapi ada sesuatu di udara. Sesuatu yang tidak bisa dilihat, tapi bisa dirasakan. David memperhatikan kakaknya dari balik sendok yang setengah jalan menuju mulut. Sherry duduk di hadapannya, menatap bubur di piringnya tanpa benar-benar melihatnya. Wajahnya pucat dan matanya yang biasanya berbinar di pagi hari kini terlihat sayu, seperti milik orang yang tidak tidur semalaman. Biasanya, setiap pagi, Sherry akan tersenyum. Tidak perlu alasan, ia akan tersenyum. Kepada Aleta yang masih setengah tidur, kepada David yang masih ngantuk, kepada sinar matahari yang masuk mela

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD