Evana terbangun lebih awal daripada biasanya. Mata bulatnya membuka perlahan, mencari kehangatan yang semestinya ada di sampingnya. Namun seperti biasa, ruang kosong di sisi kasur menyambutnya. Tempat tidur besar itu terlalu sepi tanpa keberadaan Elvano. Padahal dini hari tadi Evana baru tidur sekitar jam empat pagi setelah menghabiskan waktu berdua untuk memadu kasih bersama suaminya. Evana menghela napas. Terkadang ia ingin sekali membuka mata dan menemukan suaminya masih terlelap di sampingnya. Terkadang ia ingin melihat Elvano dengan rambut acak-acakan, napas teratur, dan wajah tampan tanpa ekspresi yang selama ini hanya bisa ia lihat sekilas saat pria itu tertidur karena kelelahan. Tapi sepertinya itu terlalu sulit untuk diwujudkan untuk sekarang. Dengan gaun tidur satin warna beig

