Gelap dini hari masih sepenuhnya menguasai langit ketika pintu kamar terbuka perlahan. Elvano berdiri di ambang pintu kamar, matanya langsung tertuju pada sosok Evana yang meringkuk di tengah ranjang. Selimut hanya menutupi setengah tubuhnya, dan napasnya naik turun perlahan, seolah dunia di dalam mimpinya jauh lebih damai dibandingkan kenyataan yang menunggu di luar sana. Ada rasa bersalah yang kembali menghantam Elvano, sama seperti setiap malam ketika ia membiarkan istrinya tidur seorang diri. Tubuhnya lelah, pikirannya penat, tetapi ada satu hal yang tidak pernah gagal membuat dadanya terasa sesak, Evana akan selalu menunggunya dalam diam. Pria itu menghela napas pelan, melepas kemeja yang sejak tadi sudah kusut melekat di tubuhnya. Ia sigap berjalan menuju kamar mandi, mencuci wajah

