Langit Jakarta hari itu tampak berat, seakan ikut menanggung kekalutan yang menyelimuti salah satu markas Moretti di kawasan industri yang tampil seperti gudang kosong dari luar. Padahal di balik pintu baja itu, segala hal yang tak boleh diketahui publik sedang berlangsung—termasuk pertemuan dua lelaki yang selama ini dikenal sebagai duo paling ditakuti dunia bawah tanah Eropa dan Asia. Giovano Moretti sudah tiba lebih dulu. Jas hitamnya rapi, tetapi urat di lehernya terlihat menegang. Ketika pintu terbuka dan Elvano masuk, Giovano hanya melirik tanpa ekspresi dan itu lebih menakutkan daripada saat ia marah terang-terangan. “Duduk.” Suaranya datar, tapi mengandung ancaman. Elvano duduk tanpa protes. Namun matanya mengawasi ayahnya, membaca gerak-gerik kecil yang selama ini hanya dia yan

