Jarum jam di dinding kamar menunjukkan pukul tiga sore. Firdaus baru saja pamit pergi untuk menjemput Keisya di sekolah, ia pergi setelah mengecup kening Aura sekilas, memastikan istrinya nyaman dengan selimut tebal yang membalut tubuhnya. Setelah deru mobil Firdaus terdengar menjauh dari halaman rumah, keheningan kembali menyelimuti kamar besar itu. Aura mencoba memejamkan mata, berharap bisa tidur sejenak untuk melupakan gejolak batinnya. Namun, baru sepuluh menit ia terlelap dalam ketenangan semu, suara keributan dari lantai bawah memaksanya membuka mata. Awalnya hanya samar, tapi lama-kelamaan suara itu makin jelas. Suara teriakan wanita, tangisan bayi yang melengking, dan suara pelayan yang terdengar panik coba menahan seseorang. "Bu, tolong jangan masuk sembarangan! Bapak sedang t

