"Meisya, istighfar! Kamu sadar nggak sama apa yang kamu omongin barusan?" Aura menatap kakak iparnya dengan pandangan tak percaya. "Aku ngmong itu dengan sadar, Ra! Kamu buta ya?" "Kak Victor masih hidup, Meisya! Kakakku masih hidup! Dia cuma koma, dia belum meninggal! Tega-teganya kamu minta suamiku buat nikahin kamu di saat Kak Victor masih berjuang buat tetap bertahan hidup?" "Hidup tapi nggak berguna buat apa, Aura?" balas Meisya frustrasi. "Aku butuh suami yang nyata! Vino butuh ayah yang nyata! Dan Firdaus orang yang paling tepat!" Aura menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha mencerna kegilaan ini. Namun, di balik kemarahan dan tuntutan yang tidak masuk akal itu, Aura melihat sesuatu yang lain di mata Meisya. Bukan hanya keputusasaan seorang ibu tunggal, tapi tatapan posesi

