Rasanya… tidak seburuk penampilannya…

4042 Words

"Bukankah sudah terlambat untuk mengetahui hal itu?" Suara Arunaya meluncur dingin, menembus kehangatan cahaya matahari pagi yang membanjiri dapur tradisional tersebut. Aru menatap lurus ke dalam manik mata Jevas, menolak untuk terintimidasi oleh tatapan tajam pria yang duduk di sebelahnya itu. Aru meletakkan garpunya di atas piring keramik yang baru separuh kosong. Selera makannya yang tadi sempat terpancing oleh kelezatan omelet buatan suaminya, kini seketika menguap. Pertanyaan Jevas tentang sumber kekayaan keluarganya bukanlah pertanyaan basa-basi. Itu adalah pertanyaan seorang predator kapitalis yang sedang memetakan wilayah buruannya. "Terlambat?" Jevas mengulang kata itu dengan nada bariton yang bergetar pelan di udara. Pria itu tidak beringsut, tidak juga terlihat tersinggung.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD