Di kampus, Areta nggak lihat Artha. Ah, Reta nggak cari dia kok. Cuma tumben saja gerombolan Om Alan hanya total 4, hilang satu personil. Biasanya kan lima. "Nih, Ta. Cobain. Kalo makan di sini harus banget coba minuman ini." Kak Fajri sodorkan segelas kopi pesanannya yang langsung dijauhkan kembali oleh Kak Fajar. "Bekas mulut lo, bau." Begitu katanya. "Astagfirullah ... jangan bikin harga diri gue tumpah-tumpah di depan Reta dong, Babang Fajar." Terserah. Fajar diam saja. Dia justru menawarkan, "Reta mau papermint latte yang kayak Fajri? Nanti Kakak pesankan." "Ehm ... boleh, Kak." Sebenarnya nggak sih, selera orang kan beda-beda, menurut Kak Fajri itu minuman wajib yang harus dicoba ketika datangi kafe. Padahal boleh jadi, tak seperti itu juga bagi pengunjung lain. Ya, nggak um

