"Lan, hape kamu gak aktif?" Telah tiba saatnya bagi mereka untuk terlelap, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Masing-masing sudah memasuki tenda, pun dengan Alan dan Artha yang mulai merebahkan diri di sana. Alan menoleh. "Qaila, ya?" Artha tak perlu jawab 'iya' supaya Alan tahu, lelaki itu pastilah paham. Sebab seorang Artha nggak mungkin bahas hape Alan yang dinon-aktifkan jika bukan karena Qaila meneleponnya barusan. "Bilang apa dia?" tanya Alan. "Alan lagi apa? Kok hapenya nggak bisa dihubungi? Dia marah ya sama aku? Emang yang namanya Areta itu beneran ponakan Alan? Kok gosip mereka pacaran malah makin santer aja, sih? Adek-adekannya kamu kan, Tha? Alan sewot pas aku nggak percaya." Kira-kira begitu. Yang Artha jelaskan, dia hafal di luar kepala keluhan-keluhannya Qaila

