Gagal. Sabtu - Minggu nggak ada eksistensi Kak Artha di kampus, tentu saja sebab mahasiswa semester 6 kan sudah tidak ada keperluan intensif bahasa. Ya sudah, tidak apa-apa. Masih ada hari Senin. Reta pun mulai berprinsip, tidak akan menghubungi Artha lebih dulu. Tidak akan! Walau tiap senggang dia pegang ponsel dan lihat-lihat room chat-nya dengan gerangan. Artha online. Sering sekali. Yang selalu Reta perhatikan. Tapi, sayang, dia tak dapat apa-apa selain sakit dalam kekecewaan harap yang penuh kesia-siaan. Kenapa, sih? Sudah ditolak, tapi bebal masih berharap. Hanya karena sebutan terakhir yang Artha ucap. 'Kakak', bukan 'saya'. Bagi Reta, itu kemajuan pesat. Nggak, ini pasti bukan penolakan yang murni. Melainkan penolakan yang berarti 'menunda hari jadi'. Tapi, tetap

