33. ARETA II

1404 Words

"Gue udah hapus nomer dia, tapi kadang suka kepikiran. Kangen gak jelas. Dosa gak, sih, gue mikirin calon jodoh orang?" Yang Reta aduk-aduk pop ice-nya. Dia sedang nongkrong di warung depan kampus. Beli nasi dan jajaran lauk. Banyak warteg di sana. Ada kedai, kafe, jajanan kaki lima, dan rumah makan lainnya. Tapi Reta lebih suka jajan di warung depan kampus, atau yang eceran kaki lima. Bareng Gissa sama Riska. "Siapa? Kak Artha?" Reta mengangguk. "Nyebelin banget gak, sih? Udah lewat berbulan-bulan. Tapi ya kalo inget, suka kangen aja gitu." Gissa menyahut, "Ya itu sih karena lo-nya, Ta. Lo cuma hapus nomer dia, diliat-liat sih gak ada rencana buat hapus perasaannya juga." Mendengarnya, Riska tertawa. Sedang Areta berdecak. Masa, sih? Terus selama ini, ketenangan yang dirasakan sewa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD