Napas Kila seperti berada di ujung tenggorokan, tersengal-sengal, sebab terlalu lama berlari. Saat ia sampai di ruang rawat, Zalman sedang menunggu dengan cemas. Hanya ada Papanya di sana, nampak begitu gelisah dan takut luar biasa. Tanpa menunggu, Kila menghampiri, "Apa yang terjadi, Pa?" tanyanya, terdengar bagai gumaman saking tercekatnya. Zalman yang menunduk mengangkat kepalanya kala mendengar ada seseorang yang mengajaknya bicara. Sang putri, Kila. Begitu khawatirnya sampai berkaca-kaca. Sementara Zalman sendiri rasanya sudah lelah menangis. Matanya bengkak, merah. "Mereka sedang memeriksa Bundamu." "Bukankah semuanya baik-baik saja?" Kila menyahut lagi, tak puas dengan penjelasan sesingkat itu. "Semuanya baik-baik saja tadi, Pah!" Ia merasa hanya hitungan jam tak melihat Ghin

