Ghina mengerjap. Matanya terbuka perlahan, jemarinya juga meski sedikit bisa ia gerakkan seluruh indranya telah erfungsi walau butuh waktu pulih kembali. Wanita berkulit pucat itu tidak tahu sudah berapa lama tepatnya tertidur pulas seperti ini, untuk sesaat, Ghina merasa tubuhnya bagai melayang. "Aku dimana?" "Mas Zalman," Nama yang pertama kali terucap dari bibir ranumnya adalah nama pria yang kini tlah menjadi segala bagi dirinya. Rumahnya, suaminya, tempatnya meletakkan ujian ini. Ghina mendadak begitu merindukan Zalman usai bangun dari tidur panjangnya. Ia bermimpi, bertemu Zalman. "Mas?" Ghina mencoba melirik sekitar. Masih belum bisa bangkit sepenuhnya, hanya menggerakkan lehernya ke samping kanan dan kiri. Merasa jemarinya seperti digenggam sejak tadi, Ghina menjadi penasa

