Saat Zalman pulang, suasana rumah sudah menjadi begitu hening. Karena Zalman memang sengaja kembali saat hari sudah begitu larut, sebab tak sanggup membayangkan reaksi dari orang-orang yang dikasihi olehnya terhadap kabar apa yang ia punya memikirkannya saja membuat Zalman sesak. Semua orang sudah beristirahat, terlelap pada mimpi masing-masing. Zalman menghela napas panjang. "Saya tidak ingin pulang. Melihat wajah mereka pasti akan membuat saya menangis," bisik pria itu, mengusap mukanya dengan kedua tangan. Hari ini begitu berat. Ia belajar tidak egois dan menerima dengan lapang keputusan takdir yang diberi, untuknya. Namun perasaan rapuh dan ikhlas adalah dua hal yang berbeda. Zalman sudah ikhlas, hanya saja, bersikap seolah tidak terjadi apa-apa adalah hal yang sulit baginya. S

