Suasana di dalam kamar yang hanya dibatasi tirai kain lusuh itu mendadak menjadi sangat panas dan menyesakkan. Revan yang baru saja meledak satu ronde, masih berbaring dengan nafas yang tersengal-senggal. Namun, daya magis dan hawa murni yang terus dipompa oleh Ayu membuat miliknya tidak kunjung layu, malah semakin tegang dan berdenyut galak menantang langit-langit kamar. Cici merangkak naik ke atas perut Revan, daster tipisnya tersingkap hingga menyingkap paha putihnya yang mulus. Ia menatap kakaknya dengan mata sayu yang berkaca-kaca karena gairah. "Kak... ingat nggak waktu itu? Kita main bertiga di sini..." bisik Cici sambil mengelus pipi Revan, jarinya perlahan turun menyusuri leher hingga ke d**a. "Cici kangen banget... rasanya beda kalau Kakak nggak ada. Kita main bertiga lagi ya?

