Matahari di Desa Ghadita mulai merangkak naik, menyinari teras kayu rumah panggung Revan yang nampak tenang, namun di balik ketenangan itu tersimpan bara gairah yang belum padam sepenuhnya sejak pergulatan semalam. Revan duduk bersila di amben bambu yang sedikit berderit setiap kali ia bergerak. Jantungnya masih berdegup tidak karuan; bukan karena sisa ketakutan bertemu ular Barong Seketi tadi, melainkan karena bayangan pergulatan sensual semalam bersama dua adiknya masih menari-nari dengan liar di pelupuk matanya. Setiap embusan angin seolah membawa kembali aroma keringat dan desahan mereka. Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah dapur, memecah lamunan Revan. Vita muncul membawa nampan kayu dengan dua gelas kopi hitam yang uapnya masih mengepul tebal, menebarkan aroma pahit ya

