Kopi Pahit dan Mata Yang Tersesat

1916 Words

Sinar matahari pagi di Desa Ghadita menerobos masuk melalui celah-celah atap rumbia rumah panggung milik Revan, menciptakan garis-garis cahaya keemasan yang menyoroti debu-debu halus yang beterbangan di udara. Revan masih terduduk di pinggir ranjangnya dengan wajah kuyu dan mata yang tampak sangat berat. Kata-katanya tadi malam, “Ini baru permulaan,” masih terngiang jelas di telinganya sendiri seperti sebuah beban yang sangat besar dan menghimpit d**a. ​Tubuhnya terasa remuk redam; sendi-sendinya kaku dan bagian pangkal pahanya masih menyisakan denyut lelah yang nyata akibat pertempuran liar dengan Sari di gubuk tua kemarin sore. Tiga ronde brutal itu ternyata benar-benar menguras sumsum tulang belakangnya. ​"Kak Revan! Sudah bangun belum? Aku sudah buatkan kopi pahit biar mual dan pusin

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD