Sinar matahari pagi di Desa Ghadita menerobos masuk melalui celah-celah atap rumbia rumah panggung milik Revan, menciptakan garis-garis cahaya keemasan yang menyoroti debu-debu halus yang beterbangan di udara. Revan masih terduduk di pinggir ranjangnya dengan wajah kuyu dan mata yang tampak sangat berat. Kata-katanya tadi malam, “Ini baru permulaan,” masih terngiang jelas di telinganya sendiri seperti sebuah beban yang sangat besar dan menghimpit d**a. Tubuhnya terasa remuk redam; sendi-sendinya kaku dan bagian pangkal pahanya masih menyisakan denyut lelah yang nyata akibat pertempuran liar dengan Sari di gubuk tua kemarin sore. Tiga ronde brutal itu ternyata benar-benar menguras sumsum tulang belakangnya. "Kak Revan! Sudah bangun belum? Aku sudah buatkan kopi pahit biar mual dan pusin

