Hutan jati di malam hari itu mendadak terasa lebih mencekam daripada sebelumnya, namun bukan karena ancaman makhluk ghaib yang ingin memangsa nyawa, melainkan karena tagihan "pajak" yang luar biasa berat bagi Revan. Langkah kakinya yang semula cepat kini melambat, berat seperti diseret-seret. Keringat dingin yang tadi mengucur karena ketakutan, kini berganti menjadi keringat gelisah yang membasahi pelipisnya. Ayu melayang tepat di depan wajah Revan, menghalangi pandangannya dengan posisi tangan bersedekap di bawah d**a sensualnya yang membusung di balik daster merah tipis itu. Matanya yang jernih kini menyipit, menatap Revan dengan penuh tuntutan. "Revan... Kamu mendadak tuli ya? Aku tanya sekali lagi, mana burger bagianku? Mana janji yang kamu katakan tadi sore?" tanya Ayu dengan nad

