Malam di Desa Ghadita seolah berhenti bernapas. Di dalam kamar kayu yang pengap itu, batas antara moral manusia dan naluri binatang telah lebur. Ruangan itu bukan lagi sekadar tempat istirahat, melainkan altar pemujaan gairah di mana seorang pemuda kuli panggul dipaksa melampaui batas kemanusiaannya oleh seorang Ratu Jin yang haus akan sari pati kehidupan. Bau melati hutan yang menyengat bercampur dengan aroma amis syahwat, menciptakan atmosfer yang sanggup membuat siapa pun yang mengintip kehilangan kewarasannya. Denting jam dinding tua di sudut kamar kembali berdetak nyaring, menandakan waktu ghaib telah dilepaskan. Revan tersentak, napasnya memburu hebat. Bayangan kepala Banaspati yang terbakar dan taring Kiai Kebo Iwa masih menghantui pelupuk matanya. Seketika, nyalinya menciut. Keta

