Fajar menyingsing di Desa Ghadita dengan cara yang paling sunyi. Kabut tebal yang menyelimuti perbukitan seolah menjadi tirai yang menutupi aib yang baru saja pecah di sebuah rumah panggung tua. Hawa dingin menusuk celah-celah dinding bambu, membawa aroma tanah basah yang mencoba membilas sisa-sisa wangi melati purba. Di dalam kamar yang masih diselimuti remang, waktu kembali bergerak menyeret kesadaran seorang pemuda ke dalam jurang penyesalan yang tak berujung. Allahu Akbar, Allahu Akbar... Suara adzan Subuh yang mengalun dari toa masjid desa terdengar seperti dentuman guntur di telinga Revan. Ia tersentak, kelopak matanya terbuka paksa. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena semangat pagi, melainkan karena syok yang langsung menghantam dadanya begitu ia sadar di mana ia berada. Re

