Matahari pagi di Desa Ghadita mulai merangkak naik, membiaskan cahaya keemasan yang menembus sela-sela pepohonan jati. Namun, bagi Revan, cahaya itu tidak memberikan kehangatan, melainkan rasa silau yang menghakimi. Langkah kakinya terasa berat, seolah setiap jengkal tanah yang ia injak menuntut pertanggungjawaban atas noda yang kian menebal di jiwanya. Revan kini berdiri di depan rumah panggung kayunya dengan batin yang compang-camping. Di lehernya masih terasa hawa panas sisa godaan Mbak Sari si janda kembang, sementara di dalam kepalanya, memori tentang pergulatan panas semalam bersama kedua adik kandungnya—Cici dan Vita—terus berputar layaknya kaset rusak yang tak bisa dihentikan. Ia merasa sangat kotor, seorang pendosa yang kehilangan arah sujud, namun di saat yang sama, gairah itu te

