Langkah kaki Revan terasa semakin berat saat ia menyusuri jalan setapak Desa Ghadita yang berbatu-batu tajam. Di belakangnya, deru mesin truk yang tadi membawanya perlahan menjauh, suaranya makin mengecil sampai akhirnya hilang ditelan sunyi desa yang khas—perpaduan aroma tanah basah, pepohonan jati, dan bau tumpukan gabah. Matahari sudah mulai tenggelam, memberikan semburat warna merah darah di ufuk barat, seolah menggambarkan gejolak yang tak kunjung padam di dalam d**a Revan. Saku celananya terasa tebal oleh amplop cokelat pemberian Pak RT Sukardi, hasil keringatnya di Astapura, namun pikirannya justru terbang jauh ke arah rumah panggung kayu miliknya. Akhirnya sampai juga... Maafin Kakak ya Dek, sudah ninggalin kalian dua hari sendirian, batin Revan bicara dalam hati. Ia menghela nap

