Matahari Desa Ghadita terasa membakar tepat di ubun-ubun, seolah ingin memanggang siapa pun yang berani menginjakkan kaki di tanah merahnya. Namun, bagi Revan, keringat yang membanjiri kaos oblongnya bukan sekadar karena terik cuaca yang mencapai puncaknya. Jantungnya berdegup tak karuan, berdentum di balik rongga d**a seperti genderang perang yang tidak sinkron. Setiap kali ia memejamkan mata untuk menghalau silau, bayangan liang nikmat Cici dan Vita yang semalam ia gempur habis-habisan kembali muncul dengan warna yang sangat nyata. Ia masih bisa merasakan sisa-sisa kehangatan dan lendir adik kandungnya sendiri yang seolah tertinggal di ujung k*********a. Ia merasa kotor. Ia merasa berdosa. Namun, di saat yang sama, otaknya seolah tidak bisa berhenti berdenyut menikmati sisa gairah ter

