Udara di jalan setapak yang membelah rimbunnya kebun Desa Ghadita itu mendadak mendingin secara tidak wajar. Suhu udara yang tadinya membakar kulit, kini terasa lembap dan berat, kontras dengan terik matahari yang masih menggantung tepat di atas ubun-ubun. Pak Joko melangkah maju dengan napas yang memburu kasar, suaranya terdengar seperti geraman binatang buas yang sedang mengincar mangsa. Parangnya yang karatan memantulkan cahaya matahari yang pecah di sela-sela rimbunnya daun pisang, menciptakan kilatan logam yang mematikan. Matanya merah, melotot liar dengan pupil yang mengecil, menunjukkan bahwa saraf kewarasannya sudah putus total oleh puncak kegilaan nafsu (hiper-s*x) yang tak tertahankan. "Lari, Sar! Masuk ke rimbunan bambu! Jangan menoleh!" teriak Revan dengan suara menggelegar,

