Hujan gerimis baru saja turun saat Elenio menyalakan mesin mobilnya. Hujan itu mengguyur pelan, membasahi kaca depan dengan butiran-butiran air yang menari pelan. Jalanan tampak basah, lampu-lampu kota mulai menyala karena suasana mendung, menciptakan pendaran cahaya keemasan yang memantul di aspal hitam. Tangannya menggenggam setir dengan erat, namun pikirannya melayang jauh. Nama Alara terus menggema dalam benaknya. Alara... Baru saja dia mendapat kabar dari salah satu anak buahnya tentang keberadaan wanita itu. Alara berada di sebuah kafe kecil di sudut kota, sendirian. Sendirian. Mungkin seharusnya Elenio lega. Wanita itu tak pergi jauh, tak menghilang. Tapi tidak. Hatinya justru mencelos. Jika Alara memilih pergi dari mansion dan menjauh darinya, pasti ada luka yang

