Bab 2. Siap Bersaing

1107 Words
Kelas telah berakhir. Para mahasiswa satu per satu ke luar dari dalam kelas. Gisel, Vira, Aika, ketiganya sudah mengajak Dinda untuk meninggalkan kelas. Akan tetapi, seperti biasa, kalau habis kelas Rayyan sahabatnya itu tak akan mau pergi sebelum melancarkan aksi centilnya. Gisel menepuk pundak Vira dan Aika. Gadis itu memberi kode agar segera pergi, meninggalkan Dinda. Biarkan saja sahabatnya itu beraksi, Gisel tak mau ikut campur. Sama seperti Gisel, Aika dan Vira juga enggan ikut campur. Ketiganya memilih melipir, meninggalkan kelas. Bagi mereka, lebih baik ke kantin daripada liat Dinda menggatal. Melihat ketiga sahabatnya pergi, senyum Dinda merekah. Selain itu kelas juga sudah kosong. Dinda masih setia duduk di kursinya sambil menopang dagu memperhatikan Rayyan. Masih dengan senyum mengembang Dinda mengangkat tangannya tinggi-tinggi. “Mas Ray—maksudnya pak Rayyan. Bapak, look at me! Dinda di sini.” Dinda melambai-lambaikan tangannya. “Teman-teman kamu udah keluar, bahkan sahabat kamu juga. Kenapa kamu masih di sini?” tanya Rayyan, tanpa mengangkat kepalanya. Pria itu sedang fokus menatap laptop. Walaupun begitu, sekalipun Dinda tak menyebutkan nama, Rayyan sudah hapal. Bagaimana tidak hapal, kelakuannya ini bukan yang pertama kali. Melainkan yang berkali-kali. Di bangku Dinda cengegesan. Ingin sekali dia menghampiri pria itu, namun Dinda takut kalau Rayyan akan kabur. Alhasil Dinda menahan diri. Dilihat-lihat, walaupun jarak tidak terlalu dekat, ketampanan Rayyan sangatlah terpancar. Astaga, Dinda jadi gemas sendiri, ingin sekali dia memiliki sosok Rayyan. “Ke luar, Dinda.” “Saya mau temanin Bapak di sini.” “Saya ngga butuh ditemani, saya biasa sendiri.” “Bapak itu single ‘kan ya?” Pertanyaan Dinda sukses membuat Rayyan mengangkat kepala. Pria itu membenarkan kacamatanya yang sedikit turun ke pangkal hidung. Tatapan Rayyan tertuju sepenuhnya kepada Dinda yang sudah nyengir. “Urusan status saya sama kamu apa, Adinda?” Tubuh Dinda menegak. “Jelas ada dong. Saya ngga mau usaha ini sia-sia. Tapi sekalipun Bapak ngga jomblo, saya siap bersaing dengan wanita itu. Jadi, Bapak single atau punya pawang? Wanita mana yang beruntung bisa dapatin Bapak. Yaampun, saya iri.” Sangat frontal dan to the point. Rayyan menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia benar-benar tak habis fikir dengan mahasiswinya itu. walaupun terkaget-kaget, Rayyan masih setia menatap Dinda sampai gadis itu salah tingkah. “Bapak jangan natap saya dalam begitu ah,” kata Dinda, mengibaskan tangannya. “Kenapa? Baper?” Sebelah alis Rayyan terangkat. Dilepasnya kacamata yang sejak tadi bertengker di mata, lalu dia letakkan di atas meja. “Mau saya single, punya pacar, punya tunangan, calon istri, itu bukan konsumsi publik,” lanjutnya. Bibir Dinda mengerucut. Apa-apaan bahas calon istri? Dinda benar tidak siap kalau semisalnya pria itu sudah memilikinya. Kalau itu sampai terjadi, lebih baik Dinda menenggelamkan dirinya di bak mandi. Melihat gadis di depannya sana terdiam samar-samar Rayyan menipiskan bibirnya. “Pacar boleh, calon istri jangan, Pak. Kalau Cuma pacar saya mau bersaing. Kalau calon istri … saya patah hati sebelum memulai.” Dinda berdecak pinggang, mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil sedang ngambek pada orang tuanya. Sepertinya meladeni Dinda tidak akan ada habisnya. Rayyan memilih acuh, tak menjawab. Dia membereskan buku serta laptopnya dimasukkan ke dalam tas. Setelah itu dia kembali menatap Dinda. “Belajar yang benar, jangan mikirin cinta-cintaan terus. Kamu udah semester tujuh, satu tahap lagi.” “Bapak itu cinta pertama saya loh.” “Saya ngga perduli,” jawab Rayyan santai. Pria itu berdiri, meninggalkan kelas. Otomatis meninggalkan Dinda sendirian di dalam. Frustasi, Dinda mengacak-acak rambutnya. “Ngeselin banget! Tapi ngeselin begitu bisa-bisanya gue jatuh cinta. Ini gimana cara naklukinnya sih?!” *** Aika menepuk pundak Gisel, menunjuk ke arah depan menggunakan dagunya. Gisel sontak mengikuti arah tunjuk sahabatnya itu. Di depan sana yang pertama kali dia lihat adalah Dinda. Gadis itu sedang dihadang oleh seorang pria. Mata Gisel menyipit, mencoba mengenali pria itu. Ah, Virgo. Bukannya memanggil, Gisel justru tertawa. Bisa dia tebak, pasti saat ini Dinda sedang mencak-mencak di dalam hatinya. Tidak dipungkiri kalau Virgo memang tampan. Tinggi, putih, mata sipit, kaya. Wanita mana yang bodoh menolak didekati? Ya, Adinda, sahabatnya orang bodoh itu. Dia lebih memilih mengejar cinta yang tak pasti. Bagi Gisel ini tontonan yang mengasikkan. Sambil makan cemilan dia memperhatikan. Beberapa kali dia dan Dinda kontak mata, namun Gisel langsung menjulurkan lidahnya. “Drama seru nih,” kata Vika sambil menikmati baksonya. Aika dan Gisel hanya tertawa. Karena mereka sangat setuju dengan apa yang Vika katakan. Sedangkan Dinda di depan sana, dia menatap tajam ketiga sahabatnya yang sedang tertawa di atas penderitaannya. “Ayo makan sama-sama sama gue, Din,” ajak Virgo, meraih pergelangan tangan Dinda. Dinda yang tak suka tubuhnya disentuh-sentuh langsung menepis tangan Virgo. “Sorry, Kak, gue mau susul Gisel, Vika sama Aika. Gue dul—” “Bisa stop sombong ngga, sih, Din?” Kening Dinda mengerut. Sombong? Bagian mana dirinya sombong? Dinda hanya tak suka disentuh sembarangan, dia juga tidak tertarik satu meja dengan Virgo. Dinda terkekeh seraya menjawab, “lo bisa pilih satu wanita yang ada di sini, gue jamin mereka ngga akan nolak lo. Kalau gue sorry, ngga tertarik.” Virgo yang tak terima terus-terusan ditolak kembali meraih pergelangan tangan Dinda, mencengkramnya kuat. Saking kuatnya, Dinda sampai meringis. “Kali ini aja, Din, jangan sampai gue main kasar.” “Hak lo main kasar ke gue apa, Kak? Gue berhak menolak kalau memang ngga berkenan!” Dinda mencoba melepaskan cekalan tangan Virgo di pergelangan tangannya. “Ekhem!” Seisi kantin yang awalnya menyaksikan perdebatan Virgo dengan Dinda, sontak menoleh ketika mendengar dehaman itu. Begitupun dengan Dinda, gadis itu menoleh. Mendapati sosok Rayyan, Dinda serasa memenangkan perkelahian. “Ini ada apa, ya? Kantin tempat untuk makan, bukan buat bikin drama. Kalau memang dia tidak mau diajak bareng, lebih baik jangan dipaksa.” Rayyan menoel lengan Virgo dengan jari telunjuknya. “Kebetulan saya ada urusan sama Dinda, bisa pinjam Dinda sebentar?” lanjutnya. Virgo menatap Rayyan. Ada rasa tidak suka, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena mau bagaimanapun Rayyan adalah dosennya. Dengan sangat terpaksa Virgo melepaskan cekalannya pada pergelangan tangan Dinda. Rayyan menunjuk Dinda. “Kamu ikut sama saya. Dan kamu Virgo, silahkan lanjutkan makannya. Ingat, jangan buat kegaduhan.” Setelah mengatakan itu Rayyan berlalu meninggalkan kantin. Dia juga mmebiarkan Dinda berjalan di belakangnya. Dengan santai Rayyan berjalan, kedua tangan pria itu masuk ke kantong celananya. “Kita mau ke mana, Pak?” tanya Dinda dengan polos. “Yang pasti bukan ke penjara.” Dinda mencibir mendengar jawaban Rayyan. Dinda tidak lagi bertanya, dia hanya mengikuti dari belakang sambil menundukkan kepala. Saking asiknya menunduk, Dinda sampai tidak sadar kalau Rayyan berhenti. Alhasil gadis itu menabrak punggung lebar sang dosen. “Menghadapi orang seperti Virgo jangan pakai kepala panas, yang ada dia akan semakin kepancing.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD