Bab 3. Mas Rayyan

1099 Words
“Menghadapi orang seperti Virgo jangan pakai kepala panas, yang ada dia akan semakin kepancing.” Kepala Dinda terangkat, menatap punggung Rayyan yang berdiri di depannya. Perlahan mata Dinda menerjap, keningnya mengerut. Ini serius dirinya diajak pergi Cuma buat bahas ini? Walaupun ingin sekali menjawab, namun Dinda masih menutup mulutnya rapat-rapat. Dia menunggu apa yang akan Rayyan katakan lagi. “Kalau dia terpancing emosinya, bisa-bisa main kasar beneran. Kalau memang kamu ngga mau terima ajakan dia, tolak baik-baik. Kamunya juga jangan pakai emosi.” Dua langkah Dinda maju. Dari yang awalnya berdiri di belakang, kini gadis itu sudah berada di samping Rayyan. Tinggi keduanya yang berbeda, membuat Dinda harus mendongak untuk bisa menatap wajah dosennya itu. Merasa diperhatikan, Rayyan ikut menoleh, kepalanya sedikit menunduk. Dan ya, tatapan keduanya bertemu. “Pak? boleh ngga, sih, kalau saya panggil Bapak itu pakai sebutan Mas? Mas dosen, mas Rayyan. Bapak itu terlalu muda di mata saya, ngga cocok dipanggil Bapak,” ujar Dinda keluar dari topik pembahasan. Yang dibahas apa, jawabannya apa. Rayyan sungguh gemas dengan gadis di sampingnya. Ingin dia menarik rambut panjang Dinda sampai gadis itu mengaduh kesakitan, atau menabok mulutnya agar berhenti bicara random. Keduanya masih beradu tatap. Dinda juga seolah tak malu kalau seandainya dilihat orang lain. Lagipula, di kampus ini siapa yang tidak tahu soal ketertarikan Dinda pada Rayyan? “Boleh, ya?” Dinda memasang wajah imut, dengan kedua tangan bertumpu pada dagu. Kelewat gemas, Rayyan meraup wajah mungil Dinda menggunakan telapak tangan besarnya. Sungguh, Rayyan benar-benar gregetan. “Saya itu lagi bicara serius sama kamu, Adinda. Kenapa pembahasannya jadi ke luar topik gini?” Dinda memutus tatapannya dengan Rayyan. Gadis itu menatap lurus ke depan sambil bersedekap d**a. “Saya itu ngga suka sama dia, Pak. Saya juga risih, saya ngga nyaman. Ini bukan kali pertama dia begini, tapi udah sering. Dulu-dulu saya masih pakai cara halus, tapi semakin dihalusin, semakin ngelunjak. Contohnys kayak tadi, berani loh dia ngancam saya.” “Ngancam gimana?” “Katanya kalau saya ngga mau ikut dia, dia mau main kasar. Coba, hak dia mau kasar sama saya itu apa? emang saya ngga boleh nolak? Harus nurut? Saya ngga kayak perempuan lain yang tergila-gila sama dia. Lagian bagi saya dia biasa aja. Masih juga gantengan Bapak. Jujur ini mah saya.” Dinda mengangkat dua jarinya membentuk huruf V. sedangkan kakinya, menendang-nendang angin. Dinda tak berani menatap Rayyan, karena dia yakin Rayyan tengah memperhatikan. Feeling Dinda tak akan pernah meleset! Mendengar penjelasan Dinda barusan Rayyan menghela napasnya. Kalau ceritanya seperti itu, memang nampaknya akan susah. Apa lagi Dinda tipikal gadis yang cukup bar-bar kalau dia tidak mau sesuatu. Karena cukup lama tak ada jawaban, Dinda memberanikan diri untuk menoleh kembali. Benar, Rayyan masih menatapnya. “Kamu ngga mau bilang kalau udah punya pacar? Mungkin dengan begitu dia akan berhenti ganggu kamu,” usul Rayyan mencoba memberi solusi. “Satu kampus ini tau saya jomblo, Mas. Eh, Pak maksudnya. Kalau Bapak berkenan … gimana kalau Bapak yang jadi pacar saya?” “Adinda!” “Hehehe.” “Sudahlah, lebih baik kamu kembali ke kantin. Saya juga lapar, mau makan.” Setelah mengatakan itu Rayyan berlalu meninggalkan Dinda. Baru dua langkah, Dinda menarik lengan Rayyan. Alhasil langkah Rayyan terhenti. “Bapak mau ke kantin?” “Telinga kamu ngga tuli, ‘kan?” Dinda nyengir, namun tak membuat tangannya lepas dari lengan Rayyan. Rayan menatap lengannya yang dipeluk tanpa rasa berdosa sama Dinda. “Kalau gitu kita bareng aja ke kantinnya. Saya juga mau ke kantin. Nanti Bapak duduk sama saya aja biar si Virgo itu ngga ganggu saya. Yuk!” Dinda memeluk lengan Rayyan, mengajaknya untuk jalan. Rayyan tidak menolak, karena itu akan sia-sia. *** Sudah sepuluh menit berlalu duduk, namun wajah Dinda masih saja ditekuk layaknya orang habis ditolak cinta. Gisel, Vika, Aika saling pandang, mengikuti arah pandang sahabatnya itu. Setelah tahu apa objek yang Dinda pandang, ketiganya menghela napas. “Sehari aja, bisa ngga sih jangan ngebucin mulu? Sadar, Din, lo Cuma dianggap mahasiswi sama dia, ngga lebih. Jangan berharap tinggi-tinggi, cari yang setara aja kenapa sih.” “Maksud lo gue sama mas Rayyan ngga setara?” sahut Dinda, menatap tajam Gisel yang duduk dihadapannya. Gisel memutar kedua bola matanya. “Sensi banget sih lo.” “Ya lagian lo nyebelin. Harusnya kalian bertiga dukung dan support gue, jangan jatuhin mental. Cukup dia yang jatuhin sedikit mental gue dengan bahas calon istri.” Aika yang duduk di samping Dinda menepuk pundak sahabatnya itu. Aika paham dan mengerti apa yang Gisel maksud. Sangat mengerti. Cuma yang namanya orang sedang bucin, tidak akan bisa dibilangin. Memang sih menyukai seseorang itu hak semua orang. Hanya saja yang Dinda harapkan itu adalah Rayyan—dosen mereka. Sedang asik mengobrol, tiba-tiba meja mereka berempat kedatangan seseorang. Kali ini yang datang bukan Virgo, melainkan Farhan si ketua BEM. Selain Virgo, Farhan juga terang-terangan kalau dia menyukai Dinda. Hanya saja Farhan versi soft spoken dan tenang. “Boleh gabung ngga?” tanya pria itu. Karena pembawaan Farhan yang kalem dan tidak aneh-aneh, keempat perempuan itu mengangguk dengan kompak. Senang diterima baik, Farhan tersenyum. Aika bergesar, memberi ruang untuk Farhan duduk di samping Dinda. “Thank you, Ai.” Aika hanya mengangguk samar. “Din,” panggil Farhan. Dinda menoleh dengan malas. Bukan dia tidak suka, hanya saja hatinya sedang kesal karena Rayyan tak mau duduk semeja dengannya tadi. Sumpah, jengkel sekali. “Minggu besok free ngga, Din?” “Kenapa emang, Han?” “Mau ikut gue ke panti asuhan ngga?” Sejenak Dinda berfikir, menimang ajakan Farhan barusan. Panti asuhan bukanlah tempat baru dan asing untuk Dinda. Karena sejak dulu dia senang sekali main ke sana. karena baginya di sana dia jadi lebih banyak bersyukur sama hidup. Dan beberapa kali juga Dinda main ke panti bersama Farhan. Setelah cukup lama berfikir, pada akhirnya Dinda mengangguk mengiyakan. Mengingat sudah lama dia tak main ke sana, jadi apa salahnya menerima ajakan Farhan? Senyum Farhan mengembang, lagi dan lagi proses pendekatannya berhasil. “Kalau gitu nanti kita bisa pulang bareng? Kita belanja buat hari minggu. Kebetulan hari ini gue free, gimana dengan lo?” “Oke, gue bisa. Kalau gitu gue duluan ya? Ada urusan penting nih.” Dinda buru-buru berdiri, lalu berlari kecil menuju meja di mana Rayyan berada. Sumpah, Dinda tidak tahan membiarkan pria itu duduk sendirian. Ketiga sahabat Dinda menepuk kening. Sedangkan Farhan, dia hanya memperhatikan. Soal isu Dinda yang menyukai Rayyan memang cukup tersebar, dan Farhan tahu itu. “Pak Rayyan.” Rayyan menatap kedatangan Dinda. “Kalau saya iyain ajakan kamu buat kencan, apa setelahnya kamu bakalan berhenti ganggu saya?” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD