Hari itu, Minggu, kembali Awan berkunjung ke rumah Mama Lian. Ini yang kesekian setelah yang pertama dan seterusnya pernah Awan lakukan, membawa serta anak dan istrinya. Bersyukur, disambut baik oleh gerangan. Mama Lian benar-benar berubah sekarang, entah karena apa dan atas dasar apa. Awan berpositif thinking saja agar hasilnya juga benar positif. Waktu berjalan dengan cepat tanpa peduli bahwa Awan membutuhkannya berjalan lambat di beberapa situasi. Tak terasa hingga telah banyak hal yang Awan lalui dalam statusnya sebagai mahasiswa dan suami untuk Ainara. Awan kuliah sambil mencari nafkah. Belum cukup sampai sana, Awan pun harus menjalani perannya sebagai sosok ayah. Di usia semuda itu Awan dipaksa keadaan agar mampu. Ya, dan rasanya seperti kaki pincang diajak berlari. Namun, dia tak s

