"Wala lagi apa?" "Lagi melukis, Kak." Sungguh, dari tadi Nara keluar dari kamar mandi dan melihat Cakrawala duduk di dekat Gempa, Nara sudah curiga. Apalagi saat mendengar jawaban itu disertai tatapan Nara yang meluncur tertuju ke Badai hingga Topan. Astagfirullah. "Wala!" Buru-buru Nara mendekat. Ya Allah! Tangis Gempa meledak kemudian, disusul dua saudaranya yang sudah cemong dilukis oleh Wala menggunakan lipstik Ainara. Oh, tidak! "Awaaan!" Nara teriak, kepalang nangis anak-anaknya. Lalu menatap adik ipar, sudah 7 tahun otw 8 pun kelakuan masih saja dakjal, macam dulu saat masih bocil bau bubuk s**u. "Wala, gak boleh, Dek. Aduh, simpen lagi lipstiknya, ya." "Kenapa, Ai?" sahut Awan yang baru saja masuk, diikuti Langit. Seketika terperangah dan lekas mengamankan Wala dari kamar

