Pukul satu pagi di hari itu pekat dengan kepanikan, khusus untuk Awan yang mana Ainara dilarikan ke rumah sakit karena takutnya mau melahirkan. Selain panik, Awan juga gugup. Tidak berkeringat, hanya dingin telapak tangannya dengan jantung yang berdebar hebat. Awan sudah menghubungi papi dan katanya akan otewe ke sini, ke rumah sakit yang dipijaknya saat ini. Di mana Awan temani Nara yang mesti menunggu naiknya level pembukaan. Kata dokter, masih pembukaan lima. Tapi Nara terlihat sudah sengsara. "Awan ...." Tangan Awan digenggam, pun Awan balas menggenggam. Kian erat sekarang. "Kenapa?" Lain dengan Awan, Nara sudah keringatan. Dia uring-uringan. Rebahnya tak nyaman. "Pengin berdiri. Jalan-jalan dikit biar cepet turun dedeknya." Awan pun segera membantu. Dia berdiri lebih dulu, lal

