Jilid II - 85: Foya-Foya

2142 Words

Tibalah akhir pekan itu. Waktu di mana keluarga kecil Awan berkunjung ke sebuah butik untuk memesan pakaian, laksana penduduk bumi yang banyak uang. Ehm. Masih cocok, kan, keluarga Awan disebut 'keluarga kecil'? "Ndong, Papa, ndong!" "Ndak mau diukul, huaaa! Papaaa!" Itu baru Badai dan Gempa, belum suara tangisan Rinai yang ikut-ikutan membahana, kayaknya cuma Topan yang anteng, meski dia mepet-mepet kepada lokasi duduk papanya. Yap, inilah saat di mana ukuran tubuh diperlukan, membuat pekerja butik membentang meteran, hendak mengukur trio bencana yang belum apa-apa sudah parno duluan. Hei! Itu, kan, cuma diukur. Kenapa malah kompak menangis begini, deh? Awan heran. Pertama, Rinai menangis karena mamanya diukur. Akibatnya Rinai lepas dari gendongan sang mama. Kedua, Badai, dia sudah

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD