"Ayo," ajak Dimas yang kembali menarik tangan Arin. Namun, tiba-tiba saja, sebuah gelengan kepala yang Dimas terima. "Maaf, Mas. Arin nggak bisa. Arin, nggak mau buat Papa, Mama dan juga Mas Aaron kecewa. Arin nggak bisa, Mas. Mereka sayang Arin. Arin nggak mau buat mereka kecewa." Dimas mengerutkan dahinya dan berucap dengan bengis. "Tapi kita tetap harus bersama Rin! Kamu masih istriku kan??" "Mungkin sekarang iya. Tapi, Arin tidak tahu nanti." "Hey! Apa maksud kamu!" seru Dimas tak terima, sambil mencekal kedua bahu Arin dengan kencang. "Kita tidak boleh berpisah! Kita harus tetap bersama!" "Nggak mas! Arin nggak mau!!" seru Arin dengan lantang, hingga membuat seseorang, yang memang sedang mencarinya berlari kencang dan mendaratkan bogem mentah, tepat di wajahnya. "Brengsekk!!" r

