"Mas Dimas?" Arin melirik ke arah kiri dan kanannya. Sebelum ia kembali menatap lurus, ke arah laki-laki yang sedang mengembangkan senyumnya ini dan juga, mengulurkan tangan kanannya, untuk mengusap lembut pipi Arin. "Iya, kenapa sayang?" ucap Dimas sambil menyunggingkan senyumnya. Arin gugup. Ia takut, bila ada yang melihat Dimas di dekatnya. Terutama, kakak maupun ibunya, yang menentang keras hubungan mereka. Ia menoleh beberapa kali, untuk memastikan situasi. Sementara orang yang berada di hadapannya saat ini, mulai mengulurkan tangan lainnya dan menyentuh kedua pipi Arin dengan kedua tangannya, agar ia fokus dan tidak lagi melirik sana sini. "Kenapa kamu ada di luar sini? Memangnya, kamu sudah sembuh?" tanya Dimas. Arin mengangguk. Sudah seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Bila

