"Ini laporannya," ucap Aaron dengan napas terengah dan sambil meletakkan tumpukan berkas di atas meja, dengan Rainer yang sedang menatapnya tanpa berkedip. "Baru datang bos?" sindir Rainer sambil melirik jam yang menempel di dinding ruangannya. Aaron tersenyum kaku dan menggaruk kepala bagian belakangnya yang tak gatal. "Maaf, Bos. Saya datang terlambat. Ada urusan sedikit tadi," ucap Aaron yang jadi tidak enak sendiri. "Oh ya? Urusan apa? Bertemu klien? Rapat pemegang saham? Atau apa hm??" Aaron menggaruk tengkuk lehernya. Ia tersenyum ragu dan berkata, "Hanya hari ini. Besok-besok tidak lagi." "Jaminannya??" ucap Rainer. "Jaminan apa?" tanya Aaron. "Potongan gaji mungkin," seloroh Rainer. "Janganlah! Aku punya anak istri yang harus dibiayai. Tidak akan terlambat lagi. Hanya unt

