Bab 16

1000 Words
BAB 16: Otoritas Tanpa Batas Regin menarik kembali wajahnya sedikit, namun matanya tetap mengunci mata Ressa yang kini tampak berkaca-kaca karena memori itu. Kilatan di mata pria itu tidak lagi menunjukkan keraguan. Jika tiga malam lalu ada rintik hujan dan sisa kewarasan yang menahan mereka, malam ini hanya ada kesunyian yang provokatif. "Malam itu, aku bisa menahannya, Res... tapi tidak untuk sekarang!" Suara Regin serak, bergetar oleh ketegasan yang mutlak. Ressa merasakan punggungnya menempel erat pada tepian meja bar. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa Regin bisa mendengarnya. "Gin, Papa dan Mamamu baru saja pergi. Belum ada dua puluh empat jam..." "Dan itu waktu yang cukup lama untuk membuatku gila karena membayangkanmu, Res," potong Regin. Ia tidak lagi menggunakan kata 'Mbak'. Ia menghapus jarak usia, menghapus status titipan, dan menghapus segala batasan yang selama ini Ressa bangun dengan susah payah. Tangan Regin yang tadinya bertumpu di meja, kini merambat naik. Jemarinya yang hangat menyentuh leher Ressa, ibu jarinya mengusap garis rahang wanita itu dengan lembut namun posesif. "Tiga malam lalu, kamu membantuku dengan tanganmu," bisik Regin, wajahnya kembali merunduk hingga bibirnya nyaris bersentuhan dengan daun telinga Ressa. "Malam ini, aku tidak mau bantuan yang setengah-setengah. Aku mau seluruhnya. Aku mau pemilik tangan yang menyentuhku malam itu." Ressa gemetar. Ia tahu ia harus menolak. Ia harus berteriak, atau setidaknya mendorong Regin menjauh dan lari ke kamarnya. Namun, sentuhan Regin di lehernya seperti sihir yang melumpuhkan seluruh syaraf motoriknya. Harum maskulin pria itu menyelimuti indranya, mengaburkan wajah Papa dan Tante Ratna yang tadi sempat menjadi benteng pertahanannya. "Regin... kumohon..." Ressa berbisik, namun kata 'kumohon' itu terdengar lebih seperti undangan daripada sebuah penolakan. Regin tidak menjawab dengan kata-kata. Ia memiringkan kepalanya, menghirup aroma leher Ressa dengan rakus, sebelum mendaratkan sebuah kecupan basah di sana—sebuah tanda otoritas yang ia tancapkan di tengah rumah yang sunyi itu. "Jangan menangis, Res," gumam Regin di atas kulitnya. "Malam ini, kita tidak akan melakukan kesalahan. Kita hanya akan melakukan apa yang seharusnya terjadi sejak lama." Ressa memejamkan mata erat-erat. Logikanya benar-benar telah tumbang. Di bawah otoritas Regin, ia menyadari bahwa tembok tinggi yang ia bangun dengan tekad baja tadi pagi, ternyata hanya terbuat dari pasir yang hancur dalam sekali sentuhan. Regin tidak memberikan kesempatan bagi Ressa untuk membantah lagi. Dalam satu gerakan yang begitu tangkas dan dominan, ia menyusupkan lengannya di bawah lekuk lutut dan punggung Ressa, mengangkat tubuh wanita itu ke dalam gendongannya. "Regin! Turunkan!" desis Ressa panik, jemarinya mencengkeram bahu kokoh Regin. Regin tidak menggubris. Ia melangkah mantap menuju kamar Ressa, seolah ia adalah penguasa mutlak di apartemen itu. Begitu sampai di dalam, ia meletakkan Ressa di atas tempat tidur yang empuk, lalu segera mengurungnya dengan kedua tangan di sisi tubuh Ressa. Wajah Regin merunduk, bibirnya menyapu lembut bibir Ressa yang gemetar. "Kau tahu, Res... bibirmu adalah candu. Sesuai namamu. Rasa vanila. Manis. Dan aku tidak akan pernah merasa cukup," bisiknya dengan suara serak yang mematikan. Ia mencium Ressa lagi, kali ini dengan lumatan yang lebih dalam dan menuntut, membuat kesadaran Ressa perlahan menguap ke udara. Namun, tepat saat gairah itu mulai membakar segalanya, sebuah suara nyaring memecah keheningan. Trrrttt... Trrrttt... Ponsel Ressa yang tergeletak di nakas bergetar hebat. Layarnya menyala terang, menampilkan panggilan video dari: Tante Ratna. Ressa tersentak, matanya membelalak kaget. Ia mencoba mendorong d**a Regin. "Regin, Tante Ratna! Mamamu telepon!" Regin mendengus kesal, napasnya memburu di ceruk leher Ressa. "Abaikan saja." "Tidak bisa! Kalau tidak diangkat, dia akan curiga dan menelepon Papa!" Ressa panik. Dengan tangan gemetar, ia meraih ponselnya. Ia merapikan rambutnya yang berantakan dan mengatur napasnya secepat mungkin. Regin tidak menjauh. Ia justru tersenyum miring, sebuah senyum nakal yang membuat Ressa merinding. Regin sengaja memposisikan dirinya di lantai, berlutut di antara kedua kaki Ressa yang menjuntai di pinggir kasur, namun kepalanya tersembunyi dari jangkauan kamera ponsel. Ressa menarik napas dalam, lalu menggeser tombol hijau. "Halo, Tante?" suara Ressa terdengar sedikit serak. "Ressa! Duh, kenapa lama sekali diangkatnya, Sayang?" wajah Tante Ratna muncul di layar, ia tampak sedang berada di kamar hotel yang mewah. "Regin mana, Res? Tante telepon dia berkali-kali tidak diangkat-angkat. Papa kamu sampai ikut khawatir. "Ah... Regin... Regin sedang keluar, Tante," jawab Ressa terbata-bata. Tepat saat itu, Ressa merasakan tangan Regin mulai merayap naik di balik kaus tidurnya. Jemari pria itu menelusuri kulit perutnya, membelai lembut area sensitif yang membuat seluruh tubuh Ressa menegang. "Keluar? Malam-malam begini? Dia ke mana?" tanya Tante Ratna curiga, matanya menyipit menatap layar. "Wajahmu kenapa merah sekali, Res? Kamu sakit?" "Nggak... nggak apa-apa, Tante. AC di kamar agak mati tadi," Ressa berusaha keras menjaga suaranya tetap stabil. Namun Regin semakin liar. Ia mulai mendaratkan kecupan-kecupan basah di paha dalam Ressa, tepat di atas batas celana pendeknya. Lidahnya bermain dengan lihai, sengaja memberikan rangsangan yang membuat Ressa hampir melepaskan ponselnya. "Oh, begitu. Bilang ya sama Regin, kalau pulang jangan larut malam. Titip dia ya Res.. .. Ingat kata Tante tadi siang..." Tante Ratna terus berceloteh. Ressa menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Matanya terpejam sejenak saat Regin memberikan hisapan kuat di area sensitifnya. Sebuah desahan hampir saja lolos dari tenggorokannya. "Mmh..." Ressa segera mengubah desahan itu menjadi dehaman kaku. "I-iya Tante. Nanti Ressa sampaikan." "Kamu kenapa, Res? Suaramu aneh sekali," Tante Ratna mengernyit. Ressa menatap ke bawah, ke arah Regin yang sedang menatapnya balik dengan mata yang penuh kemenangan. Regin seolah menikmati tantangan ini—melihat Ressa berjuang menahan nikmat dan takut secara bersamaan di depan ibunya sendiri. "Hanya... agak mengantuk, Tante. Ressa mau langsung tidur," ujar Ressa cepat, jemarinya mencengkeram sprei tempat tidur hingga buku jarinya memutih. "Ya sudah kalau begitu. Selamat istirahat, calon putriku tersayang. Dadah!" Begitu sambungan terputus, Ressa langsung melempar ponselnya ke kasur dan mendorong kepala Regin. "Kamu gila, Regin! Kamu mau kita tertangkap?!" Regin bangkit, merangkak naik ke atas tubuh Ressa lagi, matanya berkilat gelap penuh d******i. "Tapi kamu menikmatinya, kan? Menahan desahanmu di depan Mamah.. .. .. itu jauh lebih menggairahkan daripada apa pun." Regin mencium leher Ressa lagi, kali ini tepat di tempat yang tadi ia jilati. "Sekarang Mamah sudah tutup teleponnya. Tidak ada lagi gangguan, Ress."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD