Bab 17

1102 Words
BAB 17: Akar yang Terpendam Keheningan yang jatuh setelah layar ponsel menggelap terasa jauh lebih berat daripada kegelapan itu sendiri. Di dalam kamar yang hanya diterangi lampu nakas temaram, oksigen seolah tersedot habis. Regin, dengan mata yang masih berkilat oleh sisa gairah dan ego masa muda yang membara, tidak memberikan jeda. Ia merayap kembali, mengunci tubuh Ressa di antara kedua lengannya yang kokoh. "Sekarang Mamah sudah tutup teleponnya. Tidak ada lagi gangguan, Ress." Suara Regin rendah, bergetar oleh rasa percaya diri yang meluap. Namun, alih-alih melanjutkan gerakan liarnya yang menuntut, Regin mendadak melambat. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Ressa, menghirup aroma vanila yang menguar dari kulit wanita itu dengan napas yang gemetar. Ia mencumbunya—bukan cumbuan yang kasar, melainkan ciuman-ciuman kecil yang penuh pemujaan di sepanjang rahang hingga ke telinga Ressa. "Kau pikir aku melakukan ini hanya karena nafsu?" bisik Regin parau. "Kau pikir aku sependek itu?" Ressa terpaku. Tangannya yang tadi siap untuk mendorong, mendadak kaku di udara. Ada getaran emosi yang sangat jujur dalam suara Regin yang biasanya penuh kesombongan. "Aku sudah menunggumu jauh sebelum Papa dan Mamah memutuskan untuk menikah," gumam Regin lagi. Ia menjauhkan wajahnya sedikit, menatap mata Ressa dengan intensitas yang membuat jantung Ressa mencelos. "Jauh sebelum Jakarta mengubahmu menjadi wanita kantoran yang dingin dan penuh benteng pertahanan seperti sekarang." Seketika, memori yang terkubur selama belasan tahun mendadak ditarik paksa ke permukaan oleh tarikan gravitasi masa lalu yang kuat. FLASHBACK: Dua Belas Tahun yang Lalu Sinar matahari sore menembus celah pohon mangga di halaman belakang rumah lama mereka di kota kecil itu. Ressa, gadis SMA dengan seragam putih-abu yang sudah dikeluarkan dari roknya dan rambut dikuncir kuda yang berantakan, sedang tertawa terbahak-bahak hingga matanya menyipit. Di depannya, seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun duduk cemberut di rumput. Itu Regin kecil—pipi tembamnya memerah bukan karena malu, melainkan karena kesal dan rasa terbakar yang hebat di lidahnya. "Mbak Ressa jahat! Pedas! Panas!" teriak Regin kecil dengan suara cemprengnya, matanya mulai digenangi air mata. Di tangan Regin terdapat sepotong risol hangat yang baru saja diberikan Ressa. Ressa, dengan sifat jahilnya yang legendaris, sengaja menyelipkan tiga buah cabai rawit hijau yang paling pedas ke dalam lipatan risol tersebut tanpa sepengetahuan Regin. "Ayo makan lagi, Gin! Katanya mau jadi pahlawan yang kuat? Pahlawan harus tahan pedas!" goda Ressa sambil menjulurkan lidahnya. Regin kecil menjatuhkan risol itu, wajahnya benar-benar merah padam hingga ke telinga. Ia mencoba menahan tangisnya karena ingin terlihat keren di depan Ressa, namun rasa terbakar di mulutnya tidak bisa diajak kompromi. Ia mulai mengipas-ngipas lidahnya dengan tangan mungilnya. Melihat adiknya—setidaknya anak yang ia anggap adik saat itu—benar-benar menderita, hati Ressa akhirnya melunak. Rasa bersalah muncul di balik tawa renyahnya. Ia berjongkok di depan Regin, menangkup pipi mungil yang terasa hangat itu dengan kedua tangannya yang lembut. "Duh, maaf ya, Mbak cuma bercanda," bisik Ressa dengan nada yang tiba-tiba berubah sangat manis. Ressa kemudian menarik kepala Regin kecil mendekat, lalu mendaratkan sebuah kecupan ringan dan lama di atas kepala bocah itu. Sebuah kecupan yang seolah membawa sihir penawar rasa sakit bagi Regin. "Jangan nangis lagi ya? Mbak janji nggak bakal jahilin pakai cabai lagi," ujar Ressa sambil mengusap air mata di pipi Regin. "Nanti kalau sudah besar, Regin harus jadi orang hebat. Harus bisa jaga Mbak, ya?" Regin kecil terdiam seketika. Rasa terbakar di lidahnya seolah hilang, digantikan oleh debaran asing yang menghangatkan dadanya. Sejak sore itu, di bawah pohon mangga, bagi Regin, Ressa bukan sekadar kakak teman mainnya. Ressa adalah dunianya, poros di mana hidupnya akan berputar. KEMBALI KE MASA KINI Regin menyentuh bibir Ressa dengan ibu jarinya, membuyarkan lamunan wanita itu. Di dalam kamar apartemen yang mewah ini, wajah yang dulu tembam kini telah berubah menjadi garis rahang yang tegas dan maskulin. Namun, binar di matanya saat menatap Ressa masih sama: penuh pengabdian yang haus. "Kau yang menyuruhku menjagamu, Res. Kau yang memberikan ciuman di kepalaku dan membuatku berjanji untuk tidak membiarkan siapa pun menyakitimu," bisik Regin, matanya kini berkaca-kaca karena kerinduan yang purba. "Tapi kau lupa. Kau pergi ke Jakarta, kau tumbuh dewasa, dan kau menghapusku seolah aku hanya kerikil kecil di masa lalumu." Ressa merasakan sesak yang luar biasa di dadanya. Oksigen seolah menghilang, digantikan oleh rasa bersalah yang menyesakkan. "Regin... itu dulu. Kita masih anak-anak. Itu hanya gurauan masa kecil..." "Bagimu itu mungkin gurauan, tapi bagiku itu adalah awal dari obsesi ini!" suara Regin meninggi, penuh kepedihan yang selama ini ia simpan rapat-rapat di balik sikap sombongnya. "Aku tumbuh besar hanya untuk mengejarmu. Aku belajar keras agar bisa kuliah di Jakarta hanya untuk mencarimu. Dan sekarang, saat aku ada di depanmu, saat aku mencoba menagih janji itu, kau menatapku seolah aku adalah monster?" Regin kembali merunduk, mencium kening Ressa dengan sangat lama, seolah ingin mengembalikan kecupan di atas kepala dua belas tahun yang lalu itu ke tempat yang seharusnya. Hembusan napasnya terasa panas di kulit Ressa. "Dulu kau membuatku kepedasan karena cabai di risol itu, Mbak," bisik Regin tepat di depan bibir Ressa. Ia menjeda kalimatnya, matanya menggelap, menembus langsung ke dalam kalbu Ressa yang mulai goyah. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang penuh arti—senyum yang menandakan bahwa bocah sembilan tahun itu kini telah berubah menjadi pria yang mampu mengambil apa pun yang ia inginkan. "Tapi sekarang..." tangan Regin perlahan merayap turun, mencengkeram pinggang Ressa dengan posesif, menarik tubuh mereka hingga tidak ada lagi jarak yang tersisa. "Aku bisa membuatmu kepanasan, tanpa perlu cabai, Mbak Ressa." Kata-kata itu menghantam Ressa lebih keras daripada tamparan mana pun. Ia teringat bagaimana Regin kecil yang menangis karena cabai, dan kini ia melihat pria di depannya yang sedang membakar seluruh logikanya hanya dengan sebuah bisikan. Regin mulai mencium leher Ressa lagi, kali ini lebih intens, lebih menuntut. Cumbuan itu seolah menceritakan semua tahun yang ia habiskan dalam kerinduan. Setiap sentuhannya seolah berkata: Aku sudah sampai. Aku sudah dewasa. Dan aku tidak akan pergi lagi. Ressa merasa seluruh pertahanannya luruh. Dinding-dinding marmer yang ia bangun untuk melindungi hatinya hancur berkeping-keping oleh memori tentang sebuah risol pedas dan kecupan di kepala. Ia menyadari bahwa Regin bukan sekadar gangguan dalam hidupnya. Regin adalah bagian dari dirinya yang pernah ia tinggalkan di masa lalu, yang kini datang kembali untuk menuntut balas dengan cara yang paling manis sekaligus berbahaya. Di bawah d******i Regin, Ressa memejamkan mata. Ia bisa merasakan panas yang menyebar ke seluruh tubuhnya, persis seperti yang dikatakan Regin. Rasa panas yang tidak berasal dari cabai, melainkan dari api gairah dan sejarah panjang yang tidak bisa lagi ia mungkiri. "Regin..." desis Ressa pelan, jemarinya kini mulai merambat masuk ke sela-sela rambut Regin, tidak lagi untuk mendorong, melainkan untuk menarik pria itu lebih dekat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD