Bab 18

1074 Words
BAB 18: Barter Kebahagiaan Di bawah terangnya lampu ruang tamu yang sengaja ia nyalakan, Ressa justru merasa semakin tidak aman. Regin tidak lagi menyudutkannya ke dinding, ia berdiri di depan Ressa dengan jarak yang sangat dekat, membiarkan auranya yang mendominasi menyelimuti Ressa hingga wanita itu merasa sesak. Tanpa peringatan, Regin menangkup wajah Ressa dengan kedua tangannya. Ia mencium Ressa—bukan ciuman yang memohon, melainkan ciuman yang menuntut pengakuan. Ressa sempat membelalak, mencoba mendorong d**a Regin, namun lidah Regin dengan lihai melumpuhkan pertahanan bibirnya. Ressa akhirnya mendesah pasrah, membiarkan Regin menjelajahi mulutnya dengan rakus, mengecap setiap sudut manis yang selama ini selalu ia tutup rapat. Ciuman itu begitu dalam, hingga lutut Ressa terasa lemas dan ia terpaksa mencengkeram kemeja Regin agar tidak jatuh. Regin menarik diri sedikit, napasnya menderu pendek di depan bibir Ressa yang basah dan memerah. "Aku mohon, Ress... akui perasaanmu padaku," bisik Regin, suaranya serak oleh gairah dan keputusasaan. "Aku janji akan melakukan apa pun untuk membatalkan pernikahan orang tua kita." Ressa tersentak. Kesadaran akan realita menghantamnya seperti air es. Ia menggeleng lemah, mencoba menjauhkan wajahnya meski tangan Regin masih mengunci pipinya. "Tidak, Gin. Itu egois," rintih Ressa. "Ayolah, Res. Mereka sudah cukup kolot untuk cinta-cintaan," sahut Regin dengan nada meremehkan yang tajam. Ia menatap ke arah pintu seolah menantang bayangan orang tua mereka di sana. "Seharusnya, mereka mengalah pada kita yang masih muda ini. Kita yang punya masa depan lebih panjang." "Jaga bicaramu, Gin!" bentak Ressa, matanya mulai berkaca-kaca. Ia tidak tahan mendengar ayahnya dihina seperti itu. "Aku bicara sesuai kenyataan, Res," balas Regin tenang, jemarinya kini mengusap air mata yang mulai turun di pipi Ressa. "Kenapa kita harus mengalah demi nostalgia masa lalu mereka?" "Aku gak bisa, Gin. Aku gak ingin merusak kebahagiaan Papa," isak Ressa. Ia teringat binar mata ayahnya di mobil tempo hari. Kebahagiaan itu terlalu mahal untuk dihancurkan oleh skandal dengan anak calon ibu tirinya sendiri. Regin terdiam sejenak, matanya menatap Ressa dengan tatapan yang sangat dingin namun terluka. "Lalu, bagaimana dengan kebahagiaanmu?" Ressa memalingkan wajah, tidak sanggup menatap mata gelap yang selalu berhasil mengaduk-aduk perasaannya itu. Ia menghapus air matanya dengan punggung tangan, mencoba mengumpulkan sisa-sisa martabatnya yang sudah berserakan di lantai. "Aku akan mencari kebahagiaan di tempat lain," bisik Ressa, suaranya bergetar hebat. "Jauhi aku, Gin. Kumohon." Hening menyergap ruangan itu selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Regin melepaskan tangannya dari wajah Ressa. Ia mundur selangkah, menciptakan jarak yang tiba-tiba terasa sangat luas dan dingin. "Oke." Hanya satu kata itu yang keluar dari bibir Regin. Pendek, datar, dan tanpa emosi. Regin berbalik dan berjalan menuju kamarnya tanpa menoleh lagi. Suara pintu kamar Regin yang tertutup pelan namun mantap terasa lebih menyakitkan bagi Ressa daripada bantingan pintu mana pun. Ressa berdiri mematung. Ia baru saja mendapatkan apa yang ia minta—jarak dari Regin—namun kenapa dadanya justru terasa kosong dan hancur, seolah ia baru saja kehilangan separuh dari nyawanya? Malam itu, Jakarta tidak pernah benar-benar tidur, namun di dalam unit apartment. waktu seolah membeku menjadi bongkahan es yang tajam. Ressa berdiri mematung di tengah ruang tamu yang mandi cahaya lampu kristal. Kata "Oke" dari Regin masih berdengung di telinganya, pelan namun memiliki daya hancur yang luar biasa. Ressa mengira, saat Regin akhirnya menyerah dan melepaskannya, ia akan merasakan beban di pundaknya terangkat. Ia mengira nuraninya sebagai anak yang berbakti akan bersorak menang karena telah menyelamatkan kebahagiaan ayahnya. Namun, yang ia rasakan hanyalah kekosongan yang menyesakkan. Paru-parunya terasa menyempit, seolah oksigen di ruangan itu telah ikut dibawa pergi oleh Regin masuk ke dalam kamarnya. Ia menatap pintu kamar Regin yang tertutup rapat. Tidak ada suara. Tidak ada bantingan pintu yang dramatis. Hanya hening yang absolut. Ressa menyeret langkahnya menuju kamarnya sendiri. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, membenamkan wajahnya di bantal. Aroma sandalwood milik Regin masih tertinggal di sana—mengingatkannya pada cumbuan liar di bibirnya hanya beberapa menit yang lalu. Bibirnya masih terasa sedikit kebas, sisa dari penjelajahan lidah Regin yang tanpa ampun. Ressa menyentuh bibirnya sendiri dengan ujung jari, meratapi betapa tubuhnya mengkhianati kata-katanya. "Ini yang terbaik, Ress," bisiknya pada kegelapan. "Kamu tidak bisa menghancurkan Papa. Kamu tidak bisa menjadi wanita yang merebut kebahagiaan masa tua orang tuamu sendiri." Namun, di balik logika itu, sebuah suara kecil di sudut hatinya memberontak: Tapi Regin benar. Bagaimana dengan kebahagiaanku? Keesokan paginya, Ressa bangun dengan mata sembap. Ia sengaja bangun lebih pagi, berharap bisa menghindari Regin di dapur. Ia mengenakan setelan kantor yang paling formal, memulas wajahnya dengan make-up tebal untuk menutupi jejak tangis semalam. Ia butuh topeng "Manajer HRD" itu lebih dari sebelumnya. Saat ia keluar ke ruang makan, ia mendapati Regin sudah di sana. Pria itu mengenakan kemeja putih yang disetrika rapi, rambutnya disisir ke belakang, tampak sangat maskulin dan... jauh. Regin sedang menyesap kopinya sambil membaca sesuatu di tablet. Ia bahkan tidak mendongak saat Ressa masuk. Tidak ada sapaan "Pagi, Ress", tidak ada tatapan lapar yang biasanya membuat bulu kuduk Ressa meremang. Ressa berdeham pelan, mencoba memecah kesunyian yang mencekik. "Regin, aku berangkat sekarang. Ada rapat pagi." Regin hanya mengangguk pelan. "Ya." Hanya itu. Tanpa menoleh. Tanpa ekspresi. Ressa merasa seperti ditampar. Inilah yang ia minta, bukan? Jarak. Namun melihat Regin yang mendadak menjadi orang asing yang sopan justru membuatnya merasa lebih sakit daripada saat pria itu menyudutkannya ke dinding. Ressa melangkah keluar dengan kaki yang terasa berat, membawa luka yang ia ciptakan sendiri. Di kantor, Ressa tidak bisa fokus. Laporan di depannya hanya berupa deretan angka yang tidak masuk akal. Pikirannya terus melayang pada kata-kata Regin tentang "orang tua yang kolot". Ia merasa jahat karena sempat membenarkan pemikiran itu di dalam kepalanya. Siang harinya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan w******p masuk. Papa: Ressa, Papa dan Tante Ratna baru saja selesai melihat venue. Tempatnya indah sekali. Tante Ratna bilang dia ingin kamu yang memilihkan warna dekorasinya nanti. Kamu setuju kan, Sayang? Papa senang sekali kalian rukun di sana. Jaga Regin ya. Ressa menutup ponselnya dengan tangan gemetar. Jaga Regin ya. Kalimat itu seperti belati yang diputar di dalam lukanya. Bagaimana ia bisa menjaga Regin jika kehadirannya sendiri adalah racun bagi pria itu? Sore hari, Ressa memutuskan untuk pulang lebih cepat. Ia ingin memperbaiki suasana, atau setidaknya, ia tidak tahan lagi berada di kantor dengan pikiran yang kacau. Namun, saat ia sampai di apartemen, ia menemukan pemandangan yang membuatnya membeku. Di ruang tamu, Regin sedang duduk bersama seorang gadis muda. Gadis itu cantik, seumuran dengan Regin, dengan rambut panjang yang dikuncir kuda dan tawa yang renyah. Mereka sedang melihat buku materi kuliah bersama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD