“Tunggu di dalam saja, Sayang.” Sera sekali lagi mengajak sang putri untuk masuk ke ruang tamu. Anak itu terlihat sangat bersemangat dan terus meloncat-loncat di teras rumah menunggu kedatangan Oma dan Opanya. “No … No … Mama … Enja di cini cajaaa tunggu Oma dan Opa datangggg,” katanya begitu menggebu-gebu. Wajahnya mulai merengut karena terus diajak masuk, tangan mungilnya pun sudah berkacak pinggang sambil menatap kesal pada mamanya. Sera yang melihat itu makin gemas saja dibuatnya. “Panas, Sayang. Tunggu di dalam saja, yuk. Kan, pintunya sudah dibuka lebar-lebar.” Bibir anak itu langsung mencucu dengan wajah yang makin merengut. “Ihhhh … Enja ceballll …. Kenapa ciii Mama celewet!” Kakinya kini menghentak-hentak lucu, Sera yang mendengar itu menggigit bibir menahan tawa

