Lampu kristal bergantungan di langit-langit aula mewah milik keluarga William, berkilauan seiring pantulan cahaya lilin dan lampu sorot yang diarahkan ke panggung utama. Musik orkestra mengalun lembut, dipadu suara biola yang syahdu. Para tamu mengenakan gaun dan jas elegan, berbaur dengan gelas sampanye yang terus berganti di tangan para pelayan. Vivienne duduk di samping Jeremi di kursi pengantin, wajahnya tetap cantik namun bibirnya sesekali mengerucut tanda lelah. Ia baru saja melewati sesi foto panjang, dan kini masih harus meladeni ucapan selamat tanpa henti. “Vivienne, sayang, kamu harus tetap tersenyum,” bisik Jeremi sambil menunduk mendekati telinganya. “Semua mata tertuju pada kita.” Vivienne mendesah pelan. “Aku tahu, tapi pipiku rasanya kaku sekali, Jeremi. Semua orang tidak

