Rosalinda duduk di ruang tamu besar yang dihiasi dengan bunga segar dan tumpukan contoh undangan di atas meja marmer putih. Di hadapannya, berbagai model undangan terbuka berjejer rapi, mulai dari yang berdesain klasik dengan pita emas, hingga yang modern berwarna pastel lembut. Tangannya bergerak perlahan, membuka satu per satu, namun pikirannya justru dipenuhi kebingungan. Valiant duduk di seberangnya sambil menatap layar laptop, memeriksa daftar tamu yang harus diundang. “Kau pilih saja yang kau suka, Linda,” katanya tanpa menoleh. Suaranya datar tapi lembut. “Aku ingin semuanya sesuai dengan keinginanmu. Aku sudah minta percetakan mengirimkan berbagai model terbaik.” Rosalinda menatapnya, lalu menunduk pada tumpukan undangan di depannya. Ia menghela napas kecil, jari-jarinya menyentu

