Rosalinda melangkah pelan menuju ruang makan dengan jantung yang berdetak tak beraturan. Lantai marmer yang berkilau memantulkan bayangan tubuhnya, dan suara langkahnya sendiri terdengar begitu jelas di telinganya. Aroma masakan hangat tercium dari meja makan panjang yang sudah tertata rapi, membuat perutnya yang sejak pagi belum diisi terasa melilit. Nancy yang duduk di ujung meja segera melirik begitu Rosalinda muncul di ambang pintu. Senyum keibuan langsung merekah di wajahnya. “Rosalinda, mari duduk di sini. Duduklah di samping Valiant,” ucapnya dengan nada lembut namun tegas. Rosalinda terdiam sejenak, menoleh ke arah kursi yang dimaksud. Valiant sudah duduk di sana, menatapnya sambil mengangguk pelan seolah berkata bahwa ia tidak perlu takut. Dengan langkah hati-hati, Rosalinda ber

