Valiant mendobrak pintu kamar dengan wajah panik. Napasnya terengah, rambutnya berantakan, sementara di depan cermin, Rosalinda duduk dengan mata sembab dan hidung merah. Timbangan masih di lantai, jarumnya berhenti pada angka yang membuatnya menangis. “Sayang... kenapa?” tanya Valiant dengan nada cemas, berlutut di hadapan Rosalinda. Rosalinda menatapnya dengan mata berlinang, “Aku... aku gemuk! Berat badanku naik tiga kilo!” Valiant terdiam sejenak, menatap wajah calon istrinya yang tampak benar-benar hancur seolah dunia runtuh hanya karena tiga kilo. Ia menahan senyum, tapi ketika Rosalinda menatapnya tajam, ia buru-buru menyembunyikannya. “Kau bercanda, kan?” katanya pelan. “Aku serius, Val! Aku akan menikah dua bulan lagi! Bagaimana aku bisa muat di gaun pengantinku nanti?” Rosal

