Nancy duduk di ruang tamunya sambil menatap layar ponselnya. Berkali-kali ia mencoba menghubungi Valiant, tetapi dering yang terdengar selalu berakhir tanpa jawaban. Sesekali malah langsung masuk ke kotak suara. Perasaan tidak nyaman menyusup semakin dalam di dadanya. Hatinya merindukan putranya itu, merindukan sekadar mendengar suaranya, tahu kabarnya, memastikan dia baik-baik saja. Namun semakin hari Valiant semakin sulit dijangkau, seolah sengaja menjauh dari keluarganya. Nancy tidak bisa berdiam diri. Ia bukan tipe ibu yang akan menyerah hanya karena anaknya enggan menjawab telepon. Baginya, Valiant tetaplah anak yang ia lahirkan, besarkan, dan cintai sepenuh hati. Ia ingin tahu ada apa sebenarnya, mengapa anaknya berubah menjadi begitu dingin dan sulit didekati. Pagi itu, Nancy memu

