Sore itu suasana gym di pusat kota cukup ramai. Suara hantaman sarung tinju di samsak bergema di seluruh ruangan, bercampur dengan teriakan pelatih dan derap kaki yang berlatih. Radit berdiri kaku di depan pintu masuk, mengenakan kaos olahraga tipis dan celana training. Wajahnya pucat, jantungnya berdetak tidak karuan. Di sampingnya, Valiant sudah siap dengan sarung tangan boxing berwarna hitam, kaos singlet yang memperlihatkan otot lengannya yang terlatih, dan sorot mata yang tajam penuh percaya diri. Sejak mereka turun dari mobil, Radit tidak berhenti menelan ludah. Bahkan kakinya sempat gemetar ketika melihat ring boxing di tengah ruangan. “Ayo, masuk,” ujar Valiant datar sambil berjalan ke arah ring. “Hari ini kamu belajar jadi laki-laki beneran.” Radit nyaris ingin berbalik dan kab

