Vivienne menatap cermin lama sekali sore itu. Gaun biru muda yang dipilihnya berulang kali ia rapikan di depan kaca, jemari gemetar setiap kali menyentuh pinggiran kain. Malam ini adalah malam besar. Jeremi, pria yang kini mengisi hatinya dengan penuh kegelisahan sekaligus keteduhan, mengajaknya untuk bertemu dengan keluarga besarnya. Pikirannya kacau. Di satu sisi ia masih dilingkupi rasa takut pada keputusan besar yang harus dijalani setelah lulus kuliah nanti. Namun di sisi lain, hatinya mencengkram erat pada bayangan bahwa ia bisa kehilangan Jeremi bila terus menolak atau menunda. Itu yang membuatnya mantap datang malam ini. Jeremi menjemputnya di apartemen dengan jas hitam sederhana yang justru membuatnya terlihat semakin berwibawa. Begitu pintu terbuka, senyum Jeremi langsung merek

