Di tengah kesibukan hari-harinya yang semakin padat, Vivienne benar-benar tenggelam dalam dunia skripsinya. Perpustakaan menjadi rumah keduanya, layar laptop terus terbuka hingga larut malam, dan tumpukan kertas berisi coretan ide serta revisi membanjiri meja belajarnya. Ia ingin segera lulus, ingin membuktikan pada dirinya sendiri dan pada Jeremi bahwa ia mampu menyelesaikan semua ini dengan baik, supaya setelah itu tidak ada lagi halangan menuju impiannya: menikah dengan lelaki yang ia cintai. Namun kesibukan itu membuatnya semakin jarang bertemu Jeremi. Hari-hari yang dulu penuh dengan pesan manis, panggilan telepon panjang, hingga kencan sederhana di kafe kecil kini berubah jadi sapaan singkat. Jeremi berusaha mengerti, tapi rasa rindu terus menumpuk di dadanya. Malam-malamnya terasa

