Pagi itu, sinar matahari menembus celah gedung-gedung tinggi di Shibuya, Tokyo. Hiruk-pikuk kota begitu terasa—orang-orang berlalu-lalang, kendaraan berseliweran, dan papan neon berwarna-warni membuat suasana semakin semarak. Jeremi menggenggam tangan Vivienne erat, sementara Vivienne menatap sekeliling dengan mata berbinar. “Wow… Shibuya itu luar biasa ramai, Jeremi. Aku merasa seperti di tengah lautan manusia!” kata Vivienne sambil tertawa kecil. Jeremi tersenyum, menatap kekasihnya dengan mata hangat. “Iya, Sayang. Tapi di tengah keramaian ini, aku cuma ingin selalu ada di sisimu.” Vivienne tersipu, pipinya memerah. “Kau selalu bisa bikin aku klepek-klepek, Jeremi…” Jeremi menekuk lutut, menatap matanya. “Itu memang tujuanku, Sayang. Membuatmu bahagia setiap detik.” Mereka berjalan

